Mengenal Masjid Katangka, Masjid Tertua dan Bersejarah di Sulsel
Libur lebaran, mungkin anda bisa memilih Masjid Tua Katangka Gowa.
Masjid yang terletak di Jl. Syekh Yusuf, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa, ini memang sudah dikenal sebagai lokasi wisata religi dan sejarah, khususnya bagi yang ingin mengenal Kerajaan Gowa.
Wisatawan lokal hingga mancanegara banyak berkunjung di masjid tertua ini. Sebut saja turis Srilanka, Thailand, Malaysia dan lainnya.
Masjid yang sudah berumur kurang lebih 400 tahun itu, bahkan biasa dijadikan sebagai objek penelitian oleh pengunjung.
Kenapa, meski sebab dikatakan tua, bangunan yang dibangun di tahun 1603 itu menyisakan sisa bangunan yang sengaja tidak dirubah.
Nuansa didalamnya masih disuguhi dengan bentuk arsitek peninggalan sebelumnya.
Seperti dari jendela, mimbar, mihrab, dan tiang-tiang penyangga masjid.
“lantai yang digunakan waktu pertama kali masjid ini dibangun juga masih kita simpan . Sekali-kali dikeluarkan jika ada pengunjung datang melihat,” jelasnya.
Masjid yang memiliki nama asli Al Hilal Katangka ini pertama kali direnovasi tahun 1800 an, oleh Raja Gowa ke XXX Sultan Abdul Rauf dan terakhir di renov 2007 lalu.
Keunikannya bisa dilihat dari bentuk tiangnya. Silinder memanjang yang diadaptasi dari Negara Portugis.
Lalu mimbarnya memiliki sentuhan ornamen Cina.
“pendiri masjid ini dulu Sheikh Muhsin asal Arab yang juga penyebar agama Islam di Gowa banyak berhubungan dengan Gujarat-gujarat Cina dan Portugis, jadi banyak sentuhan Cina dan Portugis,”.
Mihrab nya pun jauh berbeda dengan mihrab di masjid pada umumnya. Kecil dan sebatas tinggi imamnya.
Jendela masjid berjumlah enam yang bermakna rukun imam. Pintunya berjumlah lima yang menandakan rukun islam. Empat tiang bermakna bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki empat sahabat.
Sayangnya, beberapa tahun terakhir masjid ini sering kebanjiran.
“setiap musim penghujan, air pasti masuk didalam masjid,sampai 30 cm tingginya,” ujarnya.
Ia pun beranggapan jika banjir disebabkan banyaknya perumahan disekitar dan drainase yang tidak baik.
“saya berharap agar pemerintah bisa sedikit memperhatikan. Datang meninjau supaya ditahu mau diapakan ini. Sebab sampai makam di belakang juga tergenang. Makam raja-raja Gowa selalu kebanjiran. Sekarang saja genangan air masih ada. Selama puasa ini sudah tiga kali tergenang disini,”.
Seorang pengunjung yang ditemui, Salma, mengaku prihatin dengan bencana banjir yang sering melanda masjid yang berdiri di pinggir jalan perbatasan Gowa-Makassar itu.
“iya memang selalu banjir, seharusnya ada perhatian, bagaimana pun masjid ini kan sudah jadi lokasi wisata sejarah dan religi. kalau bangunan nya saya rasa tidak ada yang perlu dirubah. Karena tetap meninggalkan nuansa bangunan sebelumnya,” ujarnya.
Sumber : Tribuntimur

Komentar
Posting Komentar